Arti rela ialah menyempurnakan sebuah pekerjaan sendiri serta mempertinggi kualitasnya. Apabila kerelaan terhadap hidup tidak ada lagi, maka keberanian pun akan hilang dalam dirinya. Tidak berani lagi membantah yang salah dan menegur ataupun mengingatkan yang tidak bersikap adil.
Maka kalau situasi ini di masyarakat kita, maka akan terhenti masyarakat yang berkemajuannya, sebabnya diantara masyarakat sudah mundur dalam pertempuran hidup. Rela yang timbul karena lemas dan malas mengerjakan sesuatu, dengan perasaan " gini saja sudah cukup", itu bukan kerelaan tetapi mati, seperti mayat yang tidak bisa bergerak.
Nah lantas bagaimana untuk terciptanya sebuah kemajuan itu, maka kita lihat pandangan seorang Buya Hamka mengatakan bahwa kita harus menuntut yang lebih sempurna, jiwa harus dinamis, bergerak terus jangan sampai statis, apalagi membeku dan diam seperti batu.
Orang yang rela untuk menjalani hidup tidak akan keluar dari ukuran yang pantas bagi dirinya sendiri.
Kepunyaan warna kulit kita yang berbeda-beda ada yang putih,hitam,cokelat sawo dan yang lainnya tidak akan mempengaruhi untuk kemajuan, meski orang itu tinggal di perkampungan sekalipun yang terpenting dia mau berpikir dan mempunyai jiwa yang besar.
Kerelaan hidup mengajarkan kepada kita sebagai bangsa yang berjuang agar mau siap dan menerima kehidupan bersakit sakit, yang tidak ada hentinya dari sebelum kemerdekaan di negeri ini, sampai negeri kita sudah merdeka pun tetap harus berjuang melewati kelelahan dan kesakitan itu. Untuk memberikan kemajuan terhadap diri sendiri, tetangga, masyarakat sekitar, hingga seluruh bangsa negara manapun.
Pernahkah anda mendengar nama
Emile Zola seorang penulis berkebangsaan perancis yang terkenal, yang sudah memperjuangkan dari bawah tangga hingga naik ke atas, orang-orang melihat kehidupannya melarat, tidurpun menyewa kamar yang kecil dan sederhana, namun karena dia tidak pernah lelah dan putus asa. Akhirnya salah satu tulisannya lah dan yang berjudul "saya menuntut", telah mengubah keadaan hidupnya dan menyebabkan dia tersenyum setelah sekian lama dengan keadaan melarat.
Dengan tulisannya yang terkenal itu adanya kejadian perkara Dreyfus dituduh menjual rahasia negara sendiri kepada negara asing, tidak hanya itu Dreyfus pun di buang ke pulau selatan oleh pemerintahnya sendiri, karena tidak benar atas perkara itu maka istrinya Dreyfus meminta tolong terhadap emile zola itu yang sudah mempunyai nama terkenal dengan penanya, untuk dibuatkan tulisannya menuntut kebenaran dan keadilan.
Akhirnya penulis itu menetapkan pendirian yang aslnya ragu dan bimbang, sehingga tulisan itu tersebar ke seluruh kota dan tanah perancis karena dengan bahasanya yang hidup dia menegakkan keadilan dan ditantangnya perbuatan zolim. Karena Dreyfus tidak salah sehingga banyaknya masyarakat terpengaruh atas penanya yang telah di tuliskan itu. Namun tetap pemerintah bertahan dengan kekuatan kekuasaannya pada waktu itu.
Sehingga emile zola harus menanggung terhadap apa yang telah ditulisankannya itu, zola terpaksa di buang ke luar negeri dan dia pun rela dan menerima itu semua. Namun yang harus kita pahami bersama bahwa kekuasaan tidak akan pernah bisa melawan kebenaran. Akhirnya pemerintahan itu hancur dan di gantikan dengan pemerintahan yang baru, serta menyelidiki kasus perkara itu dan ditemukan bahwa Dreyfus tidak benar apa yang telah di tuduhnya pada saat itu.
Dan emile zola sebagi penulis menyadarkan pendapat umum agar kembali kepada kebenaran, namun sayang ketika banyak orang yang hendak menghormatinya sebagai pahlawan pena itu, anak bangsa dari perancis yang sudah berjasa untuk membela kebenaran dan menuntut keadilan, namun sudah wafat lebih dulu di luar negeri.
Gagal dalam kemuliaan lebih baik daripada menang dalam kehinaan. Orang yang gagal tidaklah rugi selama kita belum putus asa, jika suatu pengharapan gagal jangan sampai putus harapan apalagi keputusasaan.
Rugi harta benda belumlah patut disebut rugi karena harta dapat di cari, namun rugi keberanian samalah artinya dengan separuh kerugian, jika rugi kehormatan, jatuh martabat dan gengsi, maka itulah kerugian yang sebenarnya.
Marx Twain pernah mengatakan " Peliharalah cita-citamu baik-baik! Karena jika cita-citamu padam, samalah artinya dengan mati".
Comments
Post a Comment