Skip to main content

Featured

Haruskah hidup dengan sikap yang berani untuk menjelajahi dunia ini ?...

Oleh : Abdul Rouf GANASBERKEMAJUAN-  Pribadi yang besar dan hebat tentu tidak akan sama dengan pribadi orang biasa, orang yang hidup dekat mereka, akan dapat terlihat sisi kelemahannya dan kekurangannya. Karena itu orang yang memaksa tunduk kepadanya, bukanlah dia ataupun orang lain. Orang tunduk terhadanya yaitu karena naluri. Hal yang seperti itu akan dijumpai dalam diri orang yang berani, namun yang harus digaris bawahi orang yang berani bukan saja yang berani berperang dalam medan pertempuran, tetapi berani menghadapi persoalan yang sulit dalam menjalani hidup. Dia sekali-kali tidak takut dengan kegalauan dan rasa kecemasan, tidak ragu-ragu dalam persoalan yang sulit bagi orang lain itulah orang besar. Mungkin dalam pandangan orang lain ada pekerjaan yang besar, namun menurutnya pekerjaan yang wajib dia dikerjakan. Walaupun kita bukan seorang pahlawan yang berperang di medan pertempuran, walaupun di leher dan bahu baju kita tidak ada tanda-tanda atri...

Menjadi bayang-bayang Pribadi orang lain, Mungkinkah akan lenyap pribadinya apabila mengikuti yang di tirukannya itu?..

                         (www.ganasberkemajuan.com)


Oleh : Abdul Rouf

GANASBERKEMAJUAN.COM- Kita sadar sebagai mahkluk sosial yang tidak akan pernah bisa hidup dengan sendirian, pasti membutuhkan banyak orang. dan kita pun sadar bahwa segala kemajuan, pertumbuhan diri ada yang mendorong dan mendukungnya baik itu di keluarganya dan lingkungannya untuk pertumbuhan pribadinya setiap diri seseorang.

      Pengalaman saya sendiri ketika pulang kampung ke rumah tepatnya di dusun bojong tanjung rancahilir kecamatan pamanukan kabupaten subang, saat itu saya masih kuliah semester 2 bertemu dan saling tukar pikiran dengan bibi saya dan mengatakan " lihat tetanggamu dia kuliah jurusan perbankan orang tuanya biasa saja, sekarang kerja di bank besar sudah enak punya gaji yang besar," lah kamu uf kuliahnya malah pindah-pindah jurusan.

      Kapan mau beresnya dia itu rajin suka bantuin orang tuanya, ke sawah, mencari uang sendiri, terus mau di nikahkan sama orangtuanya dia bilang nanti dulu mau mengumpulkan uang yang banyak "lanjutnya.
Dan saya hanya mengangguk-angguk tanpa ada komentar terkait pembelaan terhadap diri saya.

      Saya sadar bahwa tujuan itu untuk memotivasi dan membangunkan pribadi saya, tapi bukan itu yang saya inginkan dan bukan itu juga keahlian dan kemampuan yang saya miliki, untuk menjadi seorang pegawai perbankkan. setiap orang mempunyai pribadinya masing-masing untuk memajukkan dirinya. Janganlah membanding-bandingkan dengan yang lain, maka saya waktu itu berpikir tidak memberikan komentar apa-apa untuk menghargai pendapatnya itu.

      Kita mengetahui kehebatannya seseorang bukan berarti kita mengikuti segala keahlian dan kemampuan yang dimiliki seseorang itu, yang harus kita pahami bahwa setiap orang mempunyai keahlian masing-masing, maka posisinya tidak ada paksaan dari manapun, itu muncul secara alami dengan adanya bimbingan dari keturunannya, dan lingkungan sekitarnya. 

      Kita ketahui sejarah ilmu Fiqh dalam agama islam yang lebih di kenal keilmuanya bukan berarti menafikan yang lainnya. Yaitu empat imam, ada Imam Maliki, Hanafi, Syafi'i dan Ahmad bin Hanbal. mereka pun pada awalnya ada hubungan sebagi guru dan sebagai muridnya.

      Namun kalau kita lihat dalam pandangannya terhadap ilmu fiqih mempunyai pandangan yang berbeda, artinya bahwa setiap manusia mempunyai pribadinya masing-masing dan mempunyai pendiriannya tersendiri, maka di situ ada kebebasan terkait keahliannya dan kemampuan yang dimiliki, dan justru saling melengkapi ada yang fokus terhadap sejarah, ahli sanad hadist dan perowi (yang meriwayatkan hadist), ahli hukum fiqh dan muamallah. semuanya itu mengembangkan potensi yang yang ada dalam dirinya..

      Sehingga bagaimanapun kita sebagai manusia pasti mempunyai pribadi hebatnya masing-masing. maka tumbuhkanlah pribadi itu, jangan sampai kita justru membanggakan orang lain yang di masukkan kedalam pribadinya, terlepas orang lain itu terkenal kehebatannya, kecerdasannya, penampilannya, cara berbicaranya, cara menulisnya, yang justru itu malah merusak pribadi yang di milikinya, jadi pak tiru dong kalau gitu hihi. Maka tidak akan jelas lagi bagaimana sebenarnya pribadinya.

      Maka apabila orang yang seperti itu akan terlindas mati dengan orang yang di ikutinya itu. Bukannya memunculkan atas pribadinya sendiri ini justru malah meniru pribadi orang lain. Berbanggalah dengan pribadi kita sendiri, kalau ingin menjadi kaum juang dan kaum intelektual untuk menciptakan nilai ketauhidan dan emosional sehingga tumbuhlah pribadi yang berkemajuan.

      Benarlah apa yang di katakan oleh seorang tokoh besar kita " Pribadi kita haruslah besar dan kukuh untuk memimpin kaum kita yang masih ketinggalan, mengeluarkannya dari bawah kurungan tempurung laksana katak" (Buya Hamka). 

Sekian dan terimaksih..
Www.ganasberkemajuan.com
GANASBERKEMAJUAN.COM
Salam juang - Salam Kaum Intelektual
        


      
      
      
      

Comments

  1. Suka bangt baca ceritanya ..
    Knpa atuh ga di buat buku, pasti banyk yg terinspirasi oleh ceritanya a

    ReplyDelete
  2. Hihihi... Terima kasih @unknown masukan dan sarannya ingsaallah nanti di kembangkan lagi

    ReplyDelete

Post a Comment